UP
    Latest News

Nenek Berusia 77 Tahun Melatih Tentara Italy

Nenek Berusia 77 Tahun Melatih Tentara Italy
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEho5jgy9QF9a6f17rA2SaM48x637h2XPprKaMlqTTULS92nSwNVrlay12Mu9T2rSVQhOYfSF38mn3j9u-g3E5qU1Du5zkeMoGDpseG8xS7UlC4Ok_zCKHGjzUUiugDAn8vodlIQb15ETv8/s1600/f-02_keiko-wakabayshi-.jpg


Jangan meremehkan Keiko Wakabayshi, nenek 77 tahun. Tinggi tubuhnya memang tak lebih dari 150 cm, tapi dia orang paling dihormati tentara Italia. Wakabayshi memang bukan sembarang nenek. Dia seorang master jujitsu yang melatih bela diri tentara Italia. Perempuan berjuluk Samurai Granny atau Nenek Samurai itu melatih calon-calon tentara dalam pertempuran satu lawan satu.




Tubuh Nenek Wakabayshi terlihat mungil dibandingkan dengan anak-anak didiknya yang kebanyakan tingginya lebih dari 180 cm. Namun pensiunan itu menguasai jujitsu, kenjitsu, judo, kendo, dan karate.Dengan sederet ilmu bela diri itu, setiap hari Nenek Samurai dengan mudah membanting puluhan tentara di brigade Folgore di barak mereka di Livorno.Setiap tentara di Brigade Folgore pernah menjadi 'korban' si nenek super ini. Kalau saja pertarungan mereka bukan latihan, tentu mereka bakal malu setengah mati. Maklum, Brigade Folgore dikenal karena keberaniannya di Afrika Utara pada Perang Dunia II.


Perempuan Jepang yang kini tinggal di Italia itu selalu mengajarkan pada murid-muridnya bahwa tak ada sesuatu yang mustahil. Setelah berhasil menjatuhkan tentara bertubuh besar dia biasa bilang, “Jangan mengira yang seperti tadi (menjatuhkan lawan lebih besar) sesuatu yang mustahil. Fisik bukanlah masalah.”

Keiko tidak hanya mengajarkan teori karena baginya sparring adalah cara terbaik untuk mengetahui bagaimana cara bertarung. Keiko 'terpaksa' harus menghajar semua muridnya satu per satu sampai mereka dapat menemukan cara untuk membalas serangan dan menguasai tekhnik yang dia miliki.

Berlatih tanding dianggap sebagai metode paling efektif untuk mengajarkan bela diri. Para pejabat senior militer berharap pengalaman dipermalukan seorang perempuan tua akan menjadikan tentaranya tangguh.Nenek Wakabayshi memang keturunan pendekar samurai.

“Pendekar Ueshiba Kissomaru yang mengajari saya banyak hal,” ujarnya. Wakabayshi juga dikenal punya hati baja. Setelah selamat dari hujan bom Sekutu pada Perang Dunia II, perempuan ini belajar aikido. Berangkat dari sana, dia menjajal berbagai jenis ilmu bela diri lain.Di tangan perempuan yang sekilas tampak tak berdaya itu, ketangguhan fisik dan hasil latihan para tentara seakan tak ada gunanya. Mereka seperti lembaran daun yang dengan mudah dibanting
.

sumber :http://semut-angkrang.blogspot.com/2010/04/nenek-berusia-77-tahun-melatih-tentara.html

Terlalu! Bendera Nasional Jadi "Tisu Toilet" Buzz It

Terlalu! Bendera Nasional Jadi "Tisu Toilet" Buzz It

Menghina bendera Prancis bisa diganjar hukuman penjara maksimal enam bulan dan denda uang


VIVAnews
- Pemerintah Prancis merasa terhina setelah melihat sebuah foto yang menunjukkan bendera nasional Negeri Anggur itu dipakai untuk mengelap bokong seorang pria. Pihak berwenang dikerahkan untuk menyelidiki siapa pria yang ketahuan menghina bendera Biru-Putih-Merah itu.



Laman stasiun televisi BBC, Rabu 21 April 2010, mengungkapkan bahwa Menteri Kehakiman Prancis, Michel Alliot-Marie, marah besar setelah melihat foto itu. Dia menganggap perlakuan atas bendera nasional tersebut merupakan penghinaan sehingga pelaku harus ditindak secara hukum.

Menurut undang-undang hukum pidana di Prancis, pelaku yang terbukti menghina bendera nasional maupun lagu kebangsaan Prancis dalam suatu acara yang digelar secara terbuka dapat dihukum penjara maksimal enam bulan dan denda 7.500 euro (sekitar Rp 90,5 juta).

Masalahnya, menurut koresponden BBC di Prancis, hukum itu dapat diterapkan dalam suatu peristiwa atau kegiatan yang diselenggarakan oleh otoritas publik - bukan oleh individu maupun dalam suatu kegiatan budaya. Kendati demikian Alliot-Marie bersedia mengubah peraturan itu menjadi lebih luas.

"Sebenarnya ada dasar hukum yang bisa menindak penghinaan atas bendera Prancis," kata seorang juru bicara Kementrian Kehakiman. "Bila hukum yang ada kurang memadai, maka harus direvisi," lanjut juru bicara itu.

Aksi penyalahgunaan bendera Prancis itu tertangkap bidikan kamera seorang juru foto. Dari jalan, fotografer memotret aksi seorang pria saat berada di dekat sebuah bendera Prancis yang tengah berkibar. Entah apa maksudnya, pria itu lalu memelorotkan celananya dan mengambil bendera Prancis itu untuk dipakai mengelap bagian bawah di belakang tubuhnya.

Gambar itu bulan lalu ditampilkan oleh harian nasional Prancis, Metro, dan dinyatakan menang dalam sembuah kompetisi foto yang diselenggarakan perusahaan media FNAC di Kota Nice. Foto itu memenangkan katagori "perilaku yang salah secara politik."

Namun pihak penyelenggara memutuskan tidak memamerkan foto itu setelah mendapat protes dari kaum veteran.

sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/145885-terlalu__bendera_nasional_jadi__tisu_toilet_