UP
    Latest News

Kenangan Dibalik Peristiwa 10 November

Kenangan Dibalik Peristiwa 10 November
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/b/b6/Surabaya_nov_1945.jpg
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya, Jawa Timur.

Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia

Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan perjanjian Kalidjati. Sejak itulah, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Masuknya Tentara Inggris & Belanda

Rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

Setelah munculnya maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota.

Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jl Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera merah putih datang ke Tambaksari (lapangan Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Saat itu lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih, disertai pekik ‘Merdeka’ mendengung di angkasa. Walaupun pihak Kempeitai melarang diadakannya rapat tersebut, namun mereka tidak berdaya menghadapi massa rakyat yang semangatnya tengah menggelora itu. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato atau Oranje Hotel, Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Mula-mula Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari Allied Command (utusan Sekutu) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.

Rombongan Sekutu oleh Jepang ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees, Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).

Karena kedudukannya merasa kuat, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan hari ketika pemuda Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya. Mereka menganggap Belanda mau menancapkan kekuasannya kembali di negeri Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang sedang berlangsung di Surabaya.

Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl. Tunjungan dibanjiri oleh rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.

Tak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, menyibak kerumunan massa lalu masuk ke hotel. Ia ingin berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawan. Dalam perundingan itu Sudirman meminta agar bendera Triwarna segera diturunkan.

Ploegman menolak, bahkan dengan kasar mengancam, “Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui.” Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.

Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil menghunus pedang panjang lalu disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian di ruang muka hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman turut terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Akhirnya ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Massa rakyat menyambut keberhasilan pengibaran bendera merah putih itu dengan pekik “Merdeka” berulang kali, sebagai tanda kemenangan, kehormatan dan kedaulatan negara RI.

Kemudian meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Setelah diadakannya gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Tetapi walau begitu tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Ultimatum 10 November 1945

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.

Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.

Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Sumber: http://genemato.co.cc/kenangan-dibalik-peristiwa-10-november/

Telunjuk Telunjuk Yang Berekspresi

Telunjuk Telunjuk Yang Berekspresi

ini suatu imaginasi yang unik dan menarik.... jari telunjuk pun bisa jadi di kreasi sedemikian rupa... keren















Sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2009/11/telunjuk-telunjuk-yang-berekspresi.html

Taung Kalat Biara Di Puncak Gunung Berapi

Taung Kalat Biara Di Puncak Gunung Berapi

Taung Kalat, terletak di pusat Burma, tiga puluh mil atau lebih dari kota kuno Bagan menara di atas bumi seperti semacam istana pasir raksasa. Di atasnya ada biara Buddha yang terletak di atas gunung berapi terjal.
http://farm4.static.flickr.com/3419/3976606871_7991dbf3fa.jpg


http://farm4.static.flickr.com/3477/3806251439_6cc16fd932.jpg
Kedengarannya berbahaya tetapi pada tahap ini dalam kehidupannya Taung Kalat tidak terancam. Sebuah leher vulkanik yang terbentuk ketika magma, dalam perjalanan ke atas melalui sebuah lubang angin pada sebuah gunung berapi aktif dan mengeras di dalam lubang angin tersebut.
http://wikitravel.org/upload/shared/b/b2/Mt_Popa1.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIlbIxo9oquHVAciFkqY5cCgOpeWqNllgkJuS2WS9kLQtHh1cPUJhXJDKtLop8ot_AeQckduM-oPL5gtl3teFW6qndj17cU9b8jpue3T41RTJEq40d5HILce9PA5GDuLz3ct8h0Hc18RA/s400/2410670597ff969b48ce_1.jpg
http://inlinethumb01.webshots.com/20480/2921729430104181437S600x600Q85.jpg
para biksu d daerah burma ini tetap yakin bahwa keadaan atau kehidupan mereka tetap aman walau mereka tinggal di Taung kalat.

Sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2009/11/taung-kalat-biara-di-puncak-gunung.html

10 Benda Konyol yang dipatenkan

10 Benda Konyol yang dipatenkan
1. Topi burung

Ada banyak orang yang mencintai hobi pengamatan burung, namun sulit untuk mengamati burung itu sendiri. Oleh karena itulah topi ini diciptakan. Didesain agar burung datang mendekat dan nemplok.

2. Celana Cantik

Ketertarikan seorang pria bukan hanya dari sifatnya dan wajahnya saja, tapi dari bagian belakangnya. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan celana ini.

3. Deodoran Kentut

Alat yang dipasang di CD ini bertujuan untuk menyerap aroma busuk dari kentut yang kita keluarkan.

4. Jam Tangan Perkiraan Kematian

Jam tangan ini memiliki berbagai menu yang intinya memperkirakan berapa lama lagi si pemakai akan meninggal.

5. Meja Portabel

Tujuan dari dibuatnya alat ini adalah untuk menciptakan sebuah posisi yang pas bagi pemakainya untuk menggunakan PC, baik posisi tidur, bersandar, ataupun duduk.

6. Penghangat Kepala

Kegunaannya sudah jelas, yaitu ntuk menghangatkan kepala pemakainya. Tapi karena ribet, dapat dipastikan bahwa pemakainya tidak dapat bersantai sambil menghangatkan kepalanya.

7. Meja Anti Peluru

Karena penyerangan brutal dapat terjadi dimana saja, termasuk di sekolah, maka dibuatlah sebuah meja belajar yang berkaca anti peluru.

8. Penggendong Anak

Dengan alat ini, ibu atau ayah dapat men "tak gendong" anak-anaknya dengan praktis. Tidak dianjurkan untuk anak yang obesitas.

9. Rompi Hamster

Lucu juga nih...Dengan memakai rompi ini, kita tidak perlu khawatir akan keadaan hamster kita di rumah.

10. Cellphone Holder

Alat untuk mempermudah pemakainya untuk menyimpan dan mengeluarkan HP-nya kembali untuk digunakan.

Sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2009/11/10-benda-konyol.html

Pria Dengan Jarum Suntik Di Bokong Selama 31Tahun

Pria Dengan Jarum Suntik Di Bokong Selama 31Tahun

Seorang pensiunan asal China akhirnya dapat merasakan duduk dengan nyaman setelah dokter mengeluarkan sebatang jarum suntik patah yang 'bersemayam' di bokong pria tersebut selama 31 tahun.
http://weinterrupt.com/wp-content/uploads/uberreview190.jpg

Lao Du, 55, yang berdomisili di Zhengzhou, mengatakan bahwa jarum itu tertinggal di bokongnya akibat perbuatan seorang dokter amatir di tahun 1978, demikian lansir Zhongyuan Network. "Saat itu saya demam dan agar cepat sembuh, saya mengunjungi klinik. Kala itu saya dilayani oleh seorang dokter amatir yang ditugaskan di kampung halaman. Ketika ia menyuntik saya, entah bagaimana tiba-tiba jarum itu patah di dalam pantat saya," ujarnya.

http://www.terumotmp.com/imgs/photos/113.jpg
"Setelah insiden tersebut, saya langsung dikirim ke rumah sakit yang lebih besar. Setelah sempat diopname selama kurang lebih 9 hari, tim dokter di sana gagal menemukan jarum yang patah itu." Lao Du selalu percaya bahwa jarum yang patah itu masih tertinggal di bokongnya, dan setelah bertahun-tahun ia baru merasakan akibatnya. Sekitar empat hingga lima tahun silam ia mulai merasa ada yang menusuk-nusuk di bagian belakangnya.

"Bahkan berjalan pun terkadang membuat saya menderita," keluhnya.

"Sudah banyak rumah sakit saya datangi, namun tak ada satupun dari mereka yang berani mengambil tindakan medis karena mereka tak yakin dapat menemukan jarum suntik halus yang tertinggal di bokong saya selama 31 tahun lalu itu." Akhirnya Du mencoba keberuntungan terakhirnya dengan mengunjungi Zhengzhou People Hospital dan untungnya ada tim dokter yang bersedia menolongnya menemukan jarum patah tersebut.

http://enodewati.files.wordpress.com/2009/10/20081124115001.jpg

Kepala ahli bedah Fu Konglong, akhirnya berhasil menemukan dan mengeluarkan jarum suntik itu setelah 3 jam melakukan pembedahan. Ia mengatakan, "Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan membutuhkan ketelitian. Kami harus mencari jarum tersebut di tiap serat ototnya. Untunglah semua berakhir dengan baik dan kini Mr Du dapat beraktivitas kembali dengan tenang."

Sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2009/11/pria-dengan-jarum-suntik-di-bokong.html